Ada sebuah petuah dari para orang tua Jawa. Begini bunyinya:

Lebih baik jaga daripada sekedar tidur. Lebih baik duduk daripada sekedar jaga. Lebih baik berdiri daripada sekedar duduk. Lebih baik berjalan daripada sekedar berdiri.

Dari petuah itu, saya mengambil tiga butir ilmu:

  1. Semesta ini tidak pernah berhenti. Ia senantiasa mengalir dalam gerak. Sebagai bagian dari semesta, niscaya kita juga tak boleh berhenti. Kita harus selalu menjadi subyek yang bergerak. Soal menuju kemana dan bagaimana metode bergeraknya, ini akan kita bahas nanti di satu tulisan khusus.
  2. Selalu ada hal yang lebih baik dari yang lain. Di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi masih ada bumi. Jika kita memasukkan diri dan atau orang lain ke dalam suatu dimensi penilaian yang terbatas, sempit, dikepung tembok tebal dan tinggi, sama saja kita mengingkari potensi yang sebenarnya ada. Tembok-tembok itu bisa berupa bangunan pribadi seperti keterabaan indera, keterjangkauan pemikiran, kegoyahan perasaan. Bisa juga pagar-pagar sosial seperti ras, suku, agama, ideologi, bahasa atau adat istiadat. Jika tembok-tembok tersebut terus menerus kita pelajari, kita runtuhkan, lalu kita bangun kembali sesuai laju perkembangan semesta, barulah resiko pengingkaran potensi bisa dihindari. Maka dalam tulisan lain akan kita bahas metode meruntuhkan dan membangun kembali tembok-tembok batas penilaian pribadi dan sosial.
  3. Secara kultural esoteris, manusia Jawa terbiasa dengan wolak-waliking ukara (bolak-baliknya kalimat). Jika ini kita terapkan pada petuah di atas, maka “tidur” menjadi jauh lebih baik daripada “berjalan”. Mengapa demikian? Petuah yang terucap secara verbal itu sudah tentu merujuk ke hukum-hukum material atau badaniah. Sedangkan yang tersirat – acapkali terbaca dari kebalikan ucapan verbal – merujuk ke hukum-hukum spiritual atau batiniah. Di dalam berbagai ajaran spiritual, setidak-tidaknya kita bisa menemukan pernyataan bahwa kondisi “tidur”, mati atau lelapnya indera ragawi adalah saat bangkitnya kesadaran roh/atman yang bernilai supranatural. Ini kebalikan bernilai positif dari kondisi “berjalan”, hidup atau aktifnya indera ragawi yang merupakan saat adanya ketidaksadaran roh yang memiliki nilai natural, terbatas, negatif, atau duka. Untuk uraian definitif “berjalan” dan “tidur”, termasuk metodenya, akan kita pelajari di tulisan lain.
Mengalirlah secara harmonis dengan arus semesta. Jangan hanyut, tetapi jaga kepalamu tetap di atas batas air. Maka kau tak akan mati kekeringan ataupun tenggelam.